Apakah STEM untuk Anak Harus Mahal? Pelajaran dari Program 5M Kemendikdasmen

  • #pendidikan
  • #STEM
  • #anak usia dini

Kardus dan gelas plastik tidak otomatis menjadi pembelajaran STEM. Contoh resmi Kemendikdasmen menunjukkan bahwa nilai belajarnya muncul ketika anak membangun, menjaga struktur, mengukur, dan menghitung.

Apakah STEM untuk Anak Harus Mahal? Pelajaran dari Program 5M Kemendikdasmen의 STEM CLASSROOM 관련 대표 이미지

Apakah pembelajaran STEM untuk anak harus memakai laboratorium atau peralatan mahal? Dalam rancangan Program STEM Nasional Kemendikdasmen, jawabannya tidak. Program yang diluncurkan pada 3 September 2026 di PAUD Terpadu Kalirejo, Kabupaten Kudus, memakai prinsip 5M: Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.

Namun, kata “murah” tidak sama dengan “gratis”, dan bahan sederhana tidak otomatis menjadi pembelajaran STEM. Hal yang lebih penting adalah apa yang dilakukan anak terhadap bahan tersebut.

Apa yang dipelajari anak dari kardus dan gelas plastik?

Siaran pers Kemendikdasmen memberi contoh yang cukup konkret. Anak-anak di RA Miftahul Falah Dawe membuat miniatur sekolah dari kardus. Kardus tidak hanya dipakai sebagai bahan kerajinan: anak memanfaatkannya untuk membentuk bangunan, menata bagian-bagiannya agar tidak roboh, lalu mengukur dan menghitung jumlah bahan.

Di PAUD Terpadu Kalirejo, anak-anak membuat miniatur Menara Kudus dengan gelas plastik sebagai tiang. Susunannya memiliki enam tingkatan, sehingga kegiatan tersebut juga melibatkan pengamatan terhadap bentuk, susunan, dan jumlah.

Dari contoh ini terlihat bahwa biaya bahan bukan inti kegiatan. Kardus dan gelas plastik berfungsi sebagai media untuk mengajukan persoalan: bagaimana membuat bangunan, bagaimana menjaganya tetap berdiri, dan bagaimana menentukan ukuran atau jumlah yang diperlukan.

Bagaimana membedakan kegiatan murah dari pembelajaran STEM?

Sumber resmi tersebut tidak memberikan daftar syarat lulus atau gagal untuk setiap kegiatan. Akan tetapi, contohnya menunjukkan tiga hal yang bisa dipakai untuk membaca kualitas sebuah aktivitas:

  1. Bahan memiliki tujuan. Anak tidak sekadar menempel atau menghias, tetapi memakai bahan untuk membentuk sesuatu.
  2. Keputusan memengaruhi hasil. Cara menyusun bahan berkaitan dengan apakah bangunan dapat berdiri atau roboh.
  3. Pengukuran membantu memahami hasil. Mengukur dan menghitung membuat kegiatan terhubung dengan matematika, bukan hanya menghasilkan benda jadi.

Ini bukan checklist resmi, melainkan kesimpulan dari contoh yang dipublikasikan Kemendikdasmen. Bagi orang tua atau pendidik, pertanyaan yang lebih berguna bukan “Apakah alatnya mahal?”, melainkan “Apa yang sedang dicoba anak, keputusan apa yang dibuat, dan apa yang dapat diukur atau dihitung?”

Apa yang sebenarnya dijanjikan oleh skala nasional program ini?

Siaran pers lain menyebutkan bahwa Kemendikdasmen telah membentuk 155 Fasilitator Nasional dan menargetkan diseminasi kepada 3.272 guru melalui fasilitator daerah. Informasi ini menunjukkan adanya rancangan perluasan kompetensi guru, tetapi bukan bukti bahwa setiap sekolah sudah menjalankan program yang sama.

Pembedaan ini penting. Contoh kegiatan di Kudus dapat menjelaskan arah pendekatan 5M, sedangkan angka fasilitator dan guru menjelaskan jangkauan yang ditargetkan. Keduanya tidak boleh dibaca sebagai jaminan ketersediaan program di semua satuan pendidikan.

Jadi, pelajaran utama dari program ini bukan bahwa semua kegiatan STEM harus menggunakan kardus. Pelajarannya adalah bahwa pembelajaran dapat dimulai dari benda yang tersedia ketika bahan tersebut dipakai untuk membangun, mengambil keputusan, dan memahami hubungan antara bentuk, ukuran, jumlah, serta hasil.

Sumber rujukan