Babysitter: Apa yang Sebenarnya Perlu Dicek Selain Sertifikat?

  • #babysitter
  • #pengasuhan anak
  • #SKKNI
  • #pekerjaan domestik

Pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah babysitter memiliki sertifikat, melainkan kompetensi apa yang dinilai dan apakah cakupannya sesuai dengan kebutuhan pengasuhan.

Babysitter: Apa yang Sebenarnya Perlu Dicek Selain Sertifikat?의 BABYSITTER 관련 대표 이미지

Jawaban singkatnya: jangan menilai babysitter dari label atau sertifikat saja. Cocokkan terlebih dahulu usia anak, tugas yang akan dilakukan, dan unit kompetensi yang dinilai.

Standar resmi Indonesia sendiri tidak menggambarkan babysitter sebagai satu pekerjaan yang seragam. SKKNI Bidang Pekerjaan Domestik dari Kementerian Ketenagakerjaan memisahkan berbagai kompetensi untuk bayi dan balita. Di sinilah cara membaca kebutuhan pengasuhan menjadi lebih jelas.

Babysitter dalam standar resmi mencakup pekerjaan apa saja?

Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 239 Tahun 2022 menetapkan SKKNI bidang pekerjaan domestik yang mencakup kompetensi Pengasuh Bayi/Balita atau babysitter.

Untuk bayi, dokumen tersebut mencantumkan unit seperti menjaga kebersihan tubuh, menangani BAB dan BAK, memberi makan dan minum, membantu pemberian ASI eksklusif, memberikan susu formula, serta melaksanakan stimulasi. Untuk balita, terdapat unit yang berkaitan dengan kebersihan, aktivitas sehari-hari, makan dan minum, bermain, mengantar-jemput sekolah, dan membuat catatan kondisi kesehatan anak.

Dokumen yang sama juga menempatkan pemijatan bayi, senam bayi, dan pendampingan bayi berenang sebagai unit yang berbeda. Artinya, istilah babysitter tidak otomatis menjelaskan seluruh aktivitas yang mungkin diminta keluarga. Cakupan pekerjaan perlu disebutkan secara khusus.

Mengapa sertifikat belum menjawab seluruh pertanyaan?

Halaman resmi BNSP untuk skema Pengasuh Bayi 1 menunjukkan bahwa sertifikasi memiliki skema dan unit kompetensi tertentu. Pada halaman tersebut, salah satu syarat dasar yang dicantumkan adalah memiliki sertifikat pelatihan berbasis kompetensi Babysitter 1 dari lembaga yang terakreditasi LA-LPK Kementerian Ketenagakerjaan, atau memiliki pengalaman kerja minimal satu tahun di bidang Babysitter 1.

Halaman itu juga mencantumkan kompetensi seperti keselamatan dan kesehatan kerja, komunikasi di lingkungan kerja, kebersihan tubuh bayi, penanganan BAB dan BAK, pemberian makan dan minum, bantuan pemberian ASI eksklusif, serta pemberian susu formula.

Informasi ini sebaiknya dibaca sebagai keterangan untuk skema yang tercantum, bukan sebagai satu syarat yang otomatis berlaku untuk semua rekrutmen babysitter. Nama skema dan unit yang dinilai sama pentingnya dengan kata bersertifikat.

Cara mengubah standar menjadi pertanyaan yang berguna

Mulailah dengan menulis kebutuhan pengasuhan secara spesifik. Pisahkan apakah tugasnya berhubungan dengan bayi atau balita, lalu sebutkan aktivitas yang benar-benar diperlukan. Jangan berhenti pada uraian mencari babysitter.

Setelah itu, cocokkan kebutuhan tersebut dengan unit kompetensi dalam SKKNI. Bila pekerjaan mencakup aktivitas khusus seperti pendampingan bayi berenang atau pemijatan bayi, tanyakan secara terpisah apakah aktivitas itu memang termasuk cakupan pelatihan atau penilaian yang dimiliki kandidat. Pemisahan unit dalam SKKNI memberi alasan untuk tidak menganggap semua aktivitas tercakup oleh satu label pekerjaan.

Jika kandidat menunjukkan sertifikat, periksa nama skema dan kompetensi yang dinilai. Untuk skema yang ditampilkan BNSP, jalur persyaratannya juga perlu dibaca sesuai keterangan pada halaman skema tersebut, bukan diperluas menjadi aturan umum.

Terakhir, gunakan hasil pencocokan itu untuk menyusun uraian tugas yang jelas. SKKNI dapat menjadi acuan untuk pelatihan, penilaian kompetensi, sertifikasi, rekrutmen, dan penyusunan uraian jabatan. Nilai praktisnya bukan sekadar memberi daftar tugas, melainkan menyediakan bahasa yang lebih tepat untuk membicarakan kebutuhan keluarga dan cakupan pekerjaan.

Inti yang perlu diingat

Babysitter adalah pekerjaan dengan cakupan yang dapat berbeda menurut usia anak dan aktivitasnya. Sertifikat menjadi lebih bermakna ketika nama skema dan unit kompetensinya sesuai dengan tugas yang akan dilakukan. Jadi, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya apakah seseorang bersertifikat, melainkan kompetensi apa yang dinilai dan apakah kompetensi itu relevan dengan kebutuhan pengasuhan.

Sumber rujukan